Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan

Femen buat hal lagi Mereka Kencing Foto Presiden

. Jumat, 14 Februari 2014
0 komentar
03 Dis 2013
 
 Unjuk rasa di Ukraine yang berhujung pertempuran (AFP)
Paris - Aktivis wanita dari kelompok Femen yang ada di Paris,   kembali melakukan aksi unjuk rasa dalam kondisi telanjang dada. Aksi kali ini dilakukan dalam rangka mengecam keputusan Presiden Ukraine Viktor Yanukovych yang menolak kesepakatan Persatuan Eropah.

Penolakan tersebut memancing unjuk rasa di ibukota Kiev, Ukaine pada Sabtu (30/11) yang berhujung pertempuran. Puluhan orang dilaporkan cedera dalam bentrokan tersebut, sedangkan lebih dari 30 orang ditangkap pihak berkuasa setempat.

Seperti dilapor AFP, Isnin (2/12/2013), lima orang wanita anggota Femen mengadakan unjuk rasa di depan  Pejabat Kedutaan Besar Ukraine di Paris. Kelima wanita ini bertelanjang dada sambil membawa foto Presiden Yanukovych.

Slogan berbunyi "Yanukovych p*ss off!" tertulis dengan cat di bahagian dada mereka. Di tengah aksinya, para wanita ini kompak kencing ke atas foto Presiden Yanukovych yang mereka letakkan di jalan.

Setelah membuang seluar dalam, mereka sedikit berjongkok lalu kencing foto tersebut. Usai beraksi, mereka langsung pergi dan tidak ada penangkapan yang dilakukan anggota keselamatan setempat.

Unjuk rasa aktivis Femen ini diadakan setelah polis  anti rusuhan di Ukraine terlibat bertempur dengan  ribuan demonstran yang menuntut Presiden Yanukovych  undur dari jabatannya. Pemicunya kerana Presiden Yanukovych membatalkan rancangan kerjasama perdagangan dan perjanjian kemitraan dengan Persatuan Eropah yang sudah disusun selama bertahun-tahun.

Pemimpin gerakan Femen di Perancis, Inna Shevchenko mengecam keputusan Yanukovych tersebut. Shevchenko bahkan menyebut kepimpinan Yanukovych cenderung bergaya diktator dan dia dipengaruhi oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Itu bukan pendapat bangsa," ucapnya merujuk pada perjanjian Persatuan Eropah. "Pendapat bangsa yang sebenarnya disampaikan oleh orang-orang yang ada di alun-alun (Kiev) dan mereka yang ada di rumah sakit maupun di balai polis ," imbuhnya.

Femen merupakan kelompok aktivis wanita dari Ukraine yang menarik perhatian dunia kerana kerap bertelanjang dada dalam aksi unjuk rasanya. Dalam aksi-nya, kelompok ini kerap mensasarkan tokoh politik maupun keagamaan, termasuk mantan PM Itali  Silvio Berlusconi dan juga Presiden Rusia Vladimir Putin.
detikNews
Read More..

2 Presiden RI Yang Dihilangkan Dalam Sejarah

. Rabu, 27 November 2013
0 komentar
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQrVWtthEZglJ070wGwK6G5xWQ_KhS2bTCw2ZyKX_O4oCTtVYlmKCmyy29HGjBs9sHObap_Vq7nrGmpYYcAxjr1HblqUS5xOvvbVMeqxbDfj5OyfzlvKvyN3jJJ2C3f6BIR-sk1Lil-vA/s1600/2jbrz3c.jpg


Mungkin masih banyak dari kita yang beranggapan bahwa Indonesia hingga saat ini baru dipimpin oleh 6 orang presiden, yaitu Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan kini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun hal itu ternyata keliru.

Indonesia, menurut catatan sejarah, hingga saat ini sebenarnya sudah dipimpin oleh 8 orang presiden. Lalu, siapa dua orang lagi yang pernah memimpin Indonesia ???
Dua tokoh yang terlewatkan itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut,
bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja.
Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal Agresi Militer II, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat Republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pada tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan Agresi Militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.


President Ke 2 Indonesia Sjafruddin Prawiranegara:




Keterangan:

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu Soekarno - Hatta mengirimkan telegram berbunyi, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Iboe Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra".

Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).
Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara".

Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan". Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinet-nya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.


President ke 3 kita Mr.Assaat:



Quote:
Kutip dari Omongannya "adhree"
for Keterangan:
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).
RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.

Nah para pembaca, dengan demikian, SBY adalah presiden RI yang ke-8.
Urutan Presiden RI yang "kronologis" adalah sebagai berikut : Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, (Alm.) KH. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono
Read More..